Selasa, Oktober 07, 2008

MAHALNYA HARGA KEPERCAYAAN

Sebelum lebaran yang lalu, ada musibah kecil yang menimpa saya. Namun saya segera lupakan karena tidak ingin liburan saya dengan keluarga terganggu. Saat itu memang saya merasa lelah secara fisik dan mental sehingga butuh liburan untuk mengendurkan ketegangan yang saya alami baik karena musibah itu atau kesibukan mencari nafkah selama ini.

Pulang liburan, saya blogwalking dan menemukan postingan (klik disini) yang isinya tidak jauh dari musibah kecil yang saya alami menjelang lebaran. Musibah kecil itu adalah beberapa dokter gigi yang bekerja di klinik saya bersekongkol melakukan penggelapan. Caranya adalah menuliskan tindakan medis yang tidak benar pada kartu kontrol pasien. Seharusnya adalah pemasangan kawat gigi tetapi ditulis pada kartu kontrol pasien hanya konsultasi saja. Biaya pemasangan kawat gigi sekitar beberapa juta sedangkan biaya konsultasi hanya puluhan ribu saja. Untungnya kejadian ini cepat terdeteksi sehingga saya tidak menderita kerugian bertambah besar. (ciri internal control yang baik, salah satunya adalah apabila terjadi kecurangan cepat terdeteksi)

Tahu apa yang menyakitkan saya ? Bukan kerugian jutaan rupiah yang saya derita. Yang lebih menyakitkan adalah kepercayaan saya dirusaknya. Saya merasa dikhianati dan ditusuk dari belakang. Walaupun selama ini latar belakang pekerjaan saya menangani praktek-praktek curang baik diswasta maupun di instansi pemerintah, saya masih tidak percaya kejadian ini menimpa saya. Bagaimana saya tidak terpukul, kejadian ini terjadi beberapa hari menjelang hari raya (yang saat itu sedang menjalankan puasa) dan dilakukan oleh seorang dokter yang bajunya warna putih (melambangkan kesucian dan hati yang mulia kah?).

Sebagai orang yang berlatar belakang akuntansi dan auditing, sejak membuka klinik beberapa tahun yang lalu, saya menyadari bahwa ada beberapa kelemahan dalam sistem keuangan dan akuntansi di klinik saya. Salah satunya adalah penulisan tindakan medis dan resep kepada pasien. Untuk bagian dokter umum, saya merasa tidak ada resiko karena dokternya adalah istri saya sendiri. Sementara untuk bagian dokter gigi ini terdapat resiko yang besar/significant (artinya terdapat peluang/kesempatan yang besar untuk melakukan kecurangan) karena baik istri dan saya tidak menguasai bidang ini. Untuk mengatasi ini pilihan terbaik adalah memasang CCTV tetapi biaya pembelian alat ini cukup mahal dan ada suasana yang tidak nyaman karena privacy pasien akan terganggu. Akhirnya pilihan ini tidak saya ambil dan mengambil alternative lain yaitu memberi kepercayaan.

Pilihan memberi kepercayaan, kalau dilihat dari teori triangle fraud yang sudah sering saya bahas diblog ini (lihat di sini dan di sini juga) tidak pas sekali. Teori triangle fraud jelas tidak mempercayai semua orang untuk tidak melakukan kecurangan. Hal ini pun terlihat dalam Report ACFE (Assosiation Certified Fraud Examiner) to the Nation on Occupational Fraud and Abuse tahun 2004, 2006, 2008 yang mengatakan “Occupational Fraudsters are generally first-time offenders”. Pelaku fraud umumnya adalah orang yang pertama kali melakukan. Pada bagian lain dari laporan ini juga menyebutkan pelalu fraud umumnya adalah upper management atau dengan kata orang-orang yang dipercaya. Maka tidak heran, banyak pelaku yang ditangkap KPK adalah orang-orang yang dipercaya dan belum pernah melakukan kejahatan sebelumnya, contoh terakhir adalah seorang anggota KPPU ditangkap padahal sebelumnya anggota KPPU ini adalah seorang aktivis dan ahli koperasi.

Walaupun menyadari kelemahan pemberian kepercayaan ini dari sudut teori triangle fraud, namun saya tetap memilih itu karena ada satu pegangan lain yaitu Tuhan menciptakan manusia adalah baik. Sebagai mahluk ciptaanNya saya percaya hal ini dan karena itu tidak ragu-ragu memberi kepercayaan kepada sesama. Tentu saja kepercayaan ini tidak diberikan begitu saja harus melalui prosedur dan waktu.

Sebenarnya dokter gigi yang melakukan kecurangan itu hanya dokter gigi pengganti. Dokter gigi yang tetap sedang berhalangan hadir karena sedang cuti hamil plus tambahan perawatan bayinya yang lahir kurang sehat. Pada perekrutan dokter gigi tetap ini selain atas referensi dokter gigi yang saya kenal, saya sendiri pun melakukan prosedur background screening atas dokter gigi itu. Hasilnya selama 4 tahun bekerja dengan kami, dokter gigi tetap tersebut tidak pernah melakukan kecurangan. Namun, saya tidak melakukan prosedur background screening terhadap dokter gigi pengganti ini. Saya terlalu percaya karena dokter ini referensi dari dokter gigi tetap tersebut. Setelah kejadian, saya tanyakan kepada dokter gigi tetap mengenai dokter gigi pengganti tersebut. Jawabnya dokter gigi tetap itu hanya sebentar saja mengenal dokter gigi penggantinya.

Kembali kepada postingan saat blogwalking, ada kalimat “memberi peluang pun berarti jahat” saya setuju jika orang itu memang tahu ada kelemahan yang memberikan peluang seorang melakukan kejahatan namun tidak memperbaikinya. Namun tidak tepat jika orang itu tidak tahu ada kelemahan yang memberikan peluang sehingga seseorang dapat melakukan kejahatan/kecurangan. Memberi kepercayaan tidak sama dengan memberi peluang jika sebelum kepercayaan itu diberikan telah melalui proses tertentu antara lain background screening. Jika tidak, mahal harga dari kepercayaan itu, anda bisa tertipu dan menderita kerugian yang besar.


*) jika anda dan perusahaan anda membutuhkan jasa backgroundscreening untuk karyawan, mitra bisnis/investor dan fraud investigation untuk membuktikan telah terjadi fraud, silakan hubungi 021-7-111-00-98 atau 0816-1-685-686. Saya bersama tim (para auditor/fraud examiner, lawyer dan ex reserse) akan senang membantu anda/perusahaan anda.


Oleh :
Johanes Wardy Sitinjak
The Tracer (http://signnet.blogspot.com/)

Sumber Gambar : www.smartgiver.org

2 komentar:

paman tyo mengatakan...

walah. tega benar ya dokter2 itu. terdesak kebutuhan atau karena tamak?

The Tracer mengatakan...

Mungkin lebih ke tamak, karena dari hasil penelusuran background screening yang saya lakukan kemudian salah satu dokter itu memang pernah punya masalah serupa dengan pemilik tempat kerjanya dulu . Penampilannya yang agamis/religius menipu saya.