Selasa, Oktober 21, 2008

KORUPSI DAN KEMISKINAN : KEMBAR SIAM

Juan Somavia dalam United Nation World Summit for Social Development, 1995 mengatakan urusan yang belum terselesaikan pada abad ke-21 adalah pemberantasan kemiskinan. Namun menurut saya hal itu masih kurang, seharusnya urusan yang belum terselesaikan sampai sekarang adalah pemberantasan korupsi dan kemiskinan. Fakta menunjukan negara-negara yang penduduknya sebagian besar miskin, tingkat korupsinya tinggi. Sedangkan di negara-negara maju, di mana sebagian besar penduduknya hidup layak, tingkat korupsi di negara itu pasti kecil sekali. Jadi tepatlah dikatakan jika korupsi dan kemiskinan adalah kembar siam.Di negara yang miskin pasti korupsinya tinggi. Di negara yang tingkat korupsinya tinggi, pasti sebagian penduduknya hidup miskin.

Paradox

Hal lain yang menunjukan korupsi dan kemiskinan adalah kembar siam karena keduanya juga paradox, yaitu :

Paradox yang pertama, dalam masalah korupsi, adalah bagaimana mungkin negara kita yang percaya kepada Tuhan YME tetapi dalam hal korupsi, negara kita termasuk dalam rangking korupsi yang tertinggi di dunia.
Sementara dalam hal kemiskinan, Indonesia mengalami paradox of plenty. Kita dikatakan negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi sebagian besar penduduk tidak menikmati alias hidup dalam kemiskinan. Negara kita juga kaya akan hasil laut, tetapi seberapa banyak masyakarat Indonesia yang mampu membeli ikan segar.
Sementara itu, negara Singapura yang tidak mempunyai sumber daya alam, ternyata masyarakatnya makmur. Tentunya ini menunjukan adanya mismanajemen. Namun, seperti biasanya, siapa pun pemerintahnya selama ini selalu menyangkal atau mengatakan sudah berbuat banyak.

Paradox yang kedua adalah sudah 63 tahun merdeka tetapi Indonesia belum juga terlepas dari kemiskinan dan korupsi. Iklan dari partai yang berkuasa di TV baru-baru ini mengatakan kemiskinan turun. Sejujurnya saya tidak percaya. Sederhana saja alasan saya, yaitu teman-teman sepermainan saya sejak kecil di lingkungan rumah orangtua saya sampai saat ini kebanyakan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Sudah beberapa kali ganti pemerintahan tetapi nasib sebagian besar teman-teman saya tersebut tidak berubah. Padahal mereka tinggal di Jakarta Pusat. Bagaimana mungkin, kemiskinan dibilang menurun sedangkan orang miskin yang ditinggal di Jakarta nasibnya sampai sekarang tidak berubah, apalagi yang jauh dari Jakarta atau pulau Jawa?
Kadang kalau saya mampir ke rumah orangtua saya, mobil saya mereka cuci untuk mendapatkan upah cuci mobil. Padahal sebenarnya mobil itu baru saja dicuci. Atau kalau ada perpanjangan KTP dan surat-surat lain, saya minta mereka mengurusnya. Hal ini untuk membantu mereka sedikit.

Wajah Kemiskinan
Saya mempunyai pengalaman yang menarik mengenai wajah kemiskinan ini. Contoh pertama adalah suatu ketika saya dan teman saya melihat seorang pengemis yang fisiknya masih muda dan sehat. Teman saya menawarkan pekerjaan menjadi buruh pabrik dengan gaji Rp. 800 ribu/bulan plus makan siang. Ternyata tawaran ini ditolak. Pengemis itu mengatakan bahwa dengan mengemis ia bisa mendapatkan rata-rata Rp. 100 ribu per hari. Jika setiap hari sabtu dan minggu ia tidak mengemis, pendapatan dari mengemis sebulan adalah Rp. 2.200.000. Jauh lebih besar dari gaji seorang buruh pabrik yang ditawarkan teman saya! Tidak heran, kalau begini semakin banyak saja pengemis di Jakarta.

Contoh kedua (lihat foto). Kalau saya pulang di atas jam 11 malam, sering saya menjumpai seorang bapak yang fisiknya cacat, (maaf kakinya pendek dan melengkung membentuk huruf “O”) mendorong sepeda yang dibelakangnya ada kotak barang dagangannya. Saya tidak tahu apa dagangannya yang pasti bapak itu pasti susah payah menjual barang daganannya itu. Saya pernah melihat bapak itu keluar dari suatu gang pada jam 9 pagi ketika saya berangkat untuk urusan bisnis. Sungguh keras sekali hidup yang dijalani bapak itu. Bayangkan setiap hari berangkat jam 9 kembali jam 11 malam.

Khusus untuk tulisan ini, saya menghentikan mobil dan mau tahu apa sih barang dagangannya. Bapak ini namanya Pak Muhamad Abduh, biasanya dipanggil Pak Abduh. Pak Abduh ternyata jualan jamu, yang menurutnya dibuat sendiri. Tidak banyak cerita yang saya dapat, karena pendengaran Pak Abduh sudah tidak baik lagi. Kalau saya nanya A, eh Pak Abduh jawabnya B (kagak nyambung deh). Namun, dari ceritanya yang acak, bapak ini berdagang jamu sejak tahun 1967 (busyet deh saya aja belum lahir). Dulu berdagangnya di Pasar Induk, namun sekarang di sekitar Stasiun Manggarai dan Kampung Melayu.
Ketika Pak Abduh ini menyiapkan jamu yang saya minta, saya lihat stok jamunya masih banyak, padahal saat itu sudah jam 11 malam. Kasian sekali. Walaupun cacat fisik tetapi Pak Abduh tidak menyerah dan tidak mau menjadi pengemis.

Ketika saya menceritakan hal ini kepada istri saya, istri saya mengatakan kalau istri Pak Abduh ini pernah beberapa kali berobat kepada istri saya. Istri Pak Abduh ini juga hampir buta karena kedua matanya terkena katarak. Istri Pak Abduh bercerita kalau dagangan suaminya ( Pak Abduh ) sering tidak laku. (Maaf, bukannya sombong) tanpa saya ketahui, istri saya selalu memberikan gratis biaya pengobatan untuk mereka ini. Dalam hati saya senang sekali, ternyata diam-diam istri saya melakukan hal yang mulia.

Terakhir, apa yang dapat kita lakukan dari kedua contoh di atas ? Tentunya, kita memprioritaskan membantu Pak Abduh dibandingkan orang sehat yang menjadi pengemis.
Rencana saya, mungkin para pembaca blog bersama saya dapat membantu membuatkan gerobak untuk jualan jamu beserta dagangan jamunya sehingga Pak Abduh dapat berjualan di satu tempat saja tanpa perlu keliling dan mungkin faktor tidak lakunya jualan Pak Abduh ini adalah faktor kebersihan/higienis tampat barang dagangannya.
Saya juga tidak tahu apakah jamu hasil buatan Pak Abduh ini memang berkhasiat. Untuk itu saya juga mengetuk hati para pembaca blog ini yang tahu cara membuat jamu yang berkhasiat agar membantu Pak Abduh. Kalau ada pembaca blog yang berhati mulia ingin membantu Pak Abduh dan keluarganya, dapat mengontak saya pada 021-7-111-00-98.
Mari bersama-sama memikirkan bantuan terbaik apa buat Pak Abduh ini.



Oleh :
Johanes Wardy Sitinjak

2 komentar:

ode mengatakan...

salah satu blog yg akan saya rekomendasikan menjadi salah satu sumber informasi bagi rekan - rekan yang lain... trims boss ;)

Anonim mengatakan...

Pak Johanes, mungkin bapak bisa bikin dulu perincian biaya yang dibutuhkan untuk membuat gerobak dan barang dagangannya, jamu.
Mungkin bapak bisa membuat proposal kepada perusahaan jamu, sidomuncul atau yang lainnya.
Semoga mereka bisa membantu.