Selasa, September 16, 2008

Foreign Direct Investment (FDI) : Berkah atau Musibah ?


Dalam acara Baru Bisa Mimpi (BBM) yang disiarkan Station TV Swasta, ANTV, menghadirkan calon presiden Amin Rais (AR) dan Rizal Mallarangeng (RM). Perbedaan pandangan terlihat saat panelis melontarkan pertanyaan mengenai kepemilikan asing ? Pendapat AR telah kita ketahui dari dulu. Beliau sudah lama mengkritik kepemilikan asing dalam sektor energi dan pertambangan. Beliau juga mengkritik anggapan bahwa yang namanya BUMN pasti merugi sehingga layak dijual semuanya kepada asing. Beliau menyayangkan setalah 63 tahun bangsa Indonesia belum bisa mandiri. Berbeda dengan negara tetangga, Singapura yang melalui BUMN-nya seperti Temasek atau Malaysia dengan Khazanah telah mampu menjadi worldclass company dengan membeli aset-aset/perusahaan di negara lain.

Sementara itu, RM tampaknya menghindar untuk membahas lebih jauh masalah kepemilikan asing dengan mengalihkan pokok pembicaraan bahwa ia lebih mengutamakan pendidikan bagi generasi muda sehingga dapat bersaing dalam dunia kerja ?

Sebelum membahas perbedaan pendapat antara AR dan RM saya jelaskan dulu bahwa pembicaraan mengenai kepemilikan asing terdiri dua bagian, yaitu FDI dan Privatisasi. Dalam artikel ini saya akan membicarakan terlebih dahulu mengenai FDI, nanti artikel berikutnya tentang Privatisasi.

Mengenai definisi FDI dan latar belakangnya silakan pembaca memcari sendiri di google. Saya ingin menyampaikan suatu penelitian yang dilakukan McKinsey Global Institute tahun 2004 mengenai pengaruh dari FDI di negara Cina, India, Brazil dan Meksiko untuk 14 jenis industri.

Hasil penelitian yang dilakukan McKinsey menunjukan sebagai berikut :
Pertama, FDI baik bagi pertumbuhan ekonomi dan menaikan pendapatan nasional negara. FDI juga menurunkan harga dan memperbanyak pilihan bagi konsumen. FDI membayar gaji yang lebih baik, bahkan FDI lebih mematuhi peraturan dibandingkan perusahaan lokal pada industri yang sama.

Kedua, pengaruh FDI bagi negara yang bersangkutan tergantung apakah tujuan FDI itu untuk seeking lower costs or new markets. Jika FDI tujuannya seeking lower costs—atau disebut juga efficiency-seeking maka FDI memberikan perbaikan dalam produktifitas, output, penurunan penggangguran dan standard hidup masyarakat sekitarnya. Ancaman terhadap produk lokal kecil karena produk FDI jenis ini untuk pasar export bukan pasar lokal.

FDI yang bertujuan market-seeking pengaruhnya bisa positif dan negatif. Keuntungan karena penyediaan lapangan kerja kepada pegawai lokal, mungkin dengan biaya (tumbal) terhadap kebangkrutan/penurunan pangsa pasar perusahaan lokal.
Misal dalam kasus di Indonesia adalah masuknya Carefour. Perusahaan lokal yang telah lama masuk dalam industri retail terpengaruh. Bahkan Carefour sekarang ini telah membeli Alfa.

Dalam penelitian ini, pengaruh negatif FDI hanya terjadi di sektor perbankan di Brazil.
Namun sayangnya, penelitian ini tidak memasukkan sektor energi dan pertambangan. Apakah keuntungan FDI sebanding dengan kerusakan alam bagi negara di mana FDI itu berada ?

Perbedaan pendapat antara AR dan RM pada awal tulisan dapat dikatakan juga merupakan pro dan kontra dari FDI. Saya sendiri tidak anti FDI. Namun perkembangan FDI sejauh ini menurut saya sudah melenceng dari cita-cita bangsa yang ada dalam pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah sendiri melalui Peraturan Presiden No. 76 dan No. 77 tahun 2007 telah membuka diri kepada asing terlalu bebas. Pemilikan modal asing di bidang usaha tertentu bahkan seperti perbankan bisa mencapai 99% dan bidang usaha energi dan pertambangan maksimal 95%.

Apakah negara kita memang membutuhkan asing sampai boleh memiliki aset strategis sedemikian besar ?
Jawaban saya tidak!. Menurut saya ada dua alasan, yaitu dilihat dari perspektif Indonesia dan perspektif asing itu sendiri.
Dari perspektif Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia tidak mampu menyediakan sumber daya manusia yang handal dan modal yang cukup untuk membuat bisnis sektor ini menjadi maju dan berprospek cerah. Jika ini alasannya, cukup masuk akal, jika RM memusatkan sektor pendidikan sehingga menciptakan generasi muda yang pintar sehingga mampu bersing dengan pihak asing di masa depan.


Namun hal ini belum cukup memuaskan saya karena masih ada pertanyaan lanjutannya. Apakah setelah 63 tahun merdeka kita belum dapat menciptakan manusia-manusia unggul yang dapat bersaing di dunia global? Mengapa Malaysia mampu ? Saya ingat dulu tahun 1990 -1993 saya kost di Medan bersama-sama pemuda-pemuda Malaysia yang belajar kedokteran dan pertanian (agribisnis kelapa sawit dan karet) di Universitas Sumatera Utara (USU) dan universitas lainnya. Mengapa sekarang Malaysia lebih maju dari Indonesia?

Dari perspektif pihak asing itu sendiri. Apakah pihak asing perduli dengan keberhasilan pembangunan negara Indonesia. Sorry to say. Tidak!. Samasekali tidak!. Perhatian asing hanya tertuju kepada upaya maksimalisasi keuntungan atau tingkat hasil financial setiap sen modal yang mereka tanamkan. Pihak asing itu senantiasa mencari peluang ekonomi yang paling menguntungkan. Saya menduga semakin besar share diperbolehkannya asing memiliki aset tertentu, semakin menguntungkan sektor itu. Mereka (pihak asing) tidak bisa diharapkan untuk memberi perhatian kepada program pengentasan kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan pengganguran. Tidak ada itu namanya transfer of knowledge dan transfer of technologi kepada pekerja lokal. Pihak asing mengetahui jika para pekerja lokal dapat menguasai knowledge dan technologi, keberadaan mereka terancam. Mereka ingin menancapkan kukunya selama mungkin selama masih ada keuntungan besar yang mereka dapatkan. Selama itu juga mereka akan berusaha keras mempertahankannya, terutama lewat para teknorat dan ekonom yang bercokol di lingkaran pengambilan keputusan. Dengan melihat ini, pendapat AR benar adanya.

COUNTRY RISK

Hal lain dari perspektif pihak asing itu sendiri adalah “Apakah besarnya kepemilikan asing adalah hal yang paling berpengaruh terhadap besarnya FDI disuatu negara ?”
Duncan H. Meldrum, dalam artikelnya Country Risk And Foreign Direct Investment (Business Economics, Jan, 2000) mengatakan suatu perusahaan yang hendak menanamkan dananya dalam bentuk FDI di suatu negara, terlebih dahulu harus menghitung besarnya country risk negara tersebut. Country Risk dapat diukur dengan menghitung secara komprehensif, beberapa resiko sebagai berikut :

Economic Risk
is the significant change in the economic structure or growth rate that produces a major change in the expected return of an investment.

Transfer Risk
is the risk arising from a decision by a foreign government to restrict capital movements. Restrictions could make it difficult to repatriate profits, dividends, or capital.

Exchange Risk
is an unexpected adverse movement in the exchange rate. Exchange risk includes an unexpected change in currency regime such as a change from a fixed to a floating exchange rate.

Sovereign Risk
concerns whether a government will be unwilling or unable to meet its loan obligations, or is likely to renege on loans it guarantees. Sovereign risk can relate to transfer risk in that a government may run out of foreign exchange due to unfavorable developments in its balance of payments.

Political Risk
concerns risk of a change in political institutions stemming from a change in government control, social fabric, or other noneconomic factor.

Kesimpulannya semakin rendah Country Risk suatu negara, semakin besar kemungkinan negara tersebut dapat menarik FDI sesuai dengan tipe FDI.
Kalau begitu, apakah besarnya kepemilikan yang ditawarkan oleh pemerintah/pengambil keputusan karena tingginya country risk negara Indonesia? Jika ya, PR besar menanti pemerintahan hasil pemilu 2009 mendatang.


Oleh :
Johanes Wardy Sitinjak

1 komentar:

decidenotdecide mengatakan...

menurut saya.. LDI menjadi berkah atau musibah adalah tergantung para regulator di negara ii which is para Anggota DPR... krn dgn regulasi dan peraturan yg jelas+rinci tentunya akan menjadi berkah... jd klo pun terjadi musibah.. toh musibah ternyata yg buat para wakil2 rakyat kita :)

saya tunggu artikel mengenai privatisasi.. terimakashi atas tulisannya saya kd bisa belajar banyak...